Tampilkan postingan dengan label karangan tulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karangan tulis. Tampilkan semua postingan

Ralat : Kota Kelamin


buat semua pembaca...
karena di anggap terlalu vulgar dan menantang bagi perkembangan jiwa temen2 sekalian..
maka posting yang berjudul "Kota Kelamin" kami tutup untuk sementara waktu..

dan kami akan kembali menampilkan posting yang lebih menantang lagi untuk waktu yang belum di tentukan.. jadi nantikan kembali hadirnya Kota Kelamin dengan versi yang lebih mantab..


Buraq

Tak ada yang lebih aneh dari pada terbangun pada sebuah sore gerimis di bulan suci dan mendapati dirinya penuh mengingat mimpi yang baru saja turun dalam lelap satu menit lalu; ia seorang bejat yang tak pernah salat- bermimpi bertemu Muhammad. Bagaimana bisa?

Inilah yang dikerjakannya setiap hari, bangun menjelang siang setelah malamnya menghabiskan berbotol-botol bir bersama teman-teman di depan kios tattonya. Tidak ada yang pernah benar-benar tahu siapa nama aselinya. Semua orang memanggilnya Cimeng, tentu itu bukan nama aslinya. Kulitnya gelap dan dia menggambarinya dengan tatto berwarna-warni. Dia menyebutnya seni, teman-temannya menyebutnya keren, anak-anak ABG menyebutnya anak punk, sedang tetangga-tetangga yang sudah pasti tidak menyukai kios tattonya menyebutnya berandal.

Pencerita mimpi siang itu sangat baik pada dirinya. Tentu saja ia heran, dirinya yang selama ini menganggap dunia brengsek maka dia harus menjadi seorang brengsek pula, tiba-tiba menjadi orang terpilih yang bertemu Muhammad dalam mimpinya. Ia tak tahu apa artinya, tapi mimpi itu sangat jelas. Hanya ada satu yang tidak jelas; wajah Muhammad.

Telah 10 hari bulan Ramadhan, dan ia baru tiga kali benar-benar berpuasa. Siang saat ia bermimpi bertemu Muhammad adalah hari dirinya berpuasa untuk yang ketiga kalinya. Bukan karena merasa wajib, tetapi karena hari itu ia malas keluar dari rumah sewanya untuk membeli makanan. Hari itu diisinya dengan tidur dan baru terbangun saat aroma bunga menyeruak hidung bercampur denting gerimis yang membawa aroma tanah. Matanya terbuka, ia ngulet ke arah matahari datang. Jendela terbuka menyuguhkan pemandangan mozaik, sedikit linglung merasa tak pasti apakah itu pagi atau sore. Ia dibangunkan oleh mimpi yang aneh; lelaki itu penuh wibawa berdiri di atas buroq; kendaraan yang konon lebih cepat dari cahaya dan membawanya ke lapis langit ketujuh.

*
Saat terbangun, ia melihat pemandangan matahari kemerahan di balik jendela terbuka, gerimis, serta pohon kamboja di sebelah rumahnya yang bertetangga dengan kuburan kecil menyeruak aroma bunga merah muda. Ia mengingat-ingat, apakah saat itu pagi atau senja. Usianya baru tujuh tahun tapi ia sanggup berpuasa penuh. Ibunya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu menyapa dengan lembut, "Qatrun, salat asar dulu. Sebentar lagi magrib." Kini ia tahu, dirinya terbangun pada sebuah sore gerimis di bulan suci. Ia tak bergegas, mengingat-ingat mimpinya satu menit yang lalu. Sebuah mimpi yang jelas, hanya satu yang tidak begitu jelas; wajah Muhammad dalam mimpinya.

Sehabis berbuka puasa dan magrib lewat, Qatrun kecil mengambil sarung dan peci. Teman-temannya berteriak memanggil-manggil namanya di depan rumah, mengajak pergi ke surau berbarengan untuk tarawih. Kali ini setelah tarawih selesai ia tidak langsung pulang. Bahkan saat teman-teman merayunya dengan segenggam mercon yang disembunyikan di balik sarung untuk diledakkan di perempatan jalan, Qatrun tetap berada di surau dan menunggu sepi, ingin berbicara dengan Ustaz.
"Ustaz, aku bermimpi aneh."
"Mimpi apa?"
"Muhammad."
"Kau mimpi bertemu Muhammad?" ia harus mengakui ada rasa iri menyelip. Bahkan dirinya yang sudah berumur dan menganggap cukup taat belum pernah mimpi bersua Muhammad. "Bagaimana ia?"
"Ia berdiri di atas buroq dengan wajah yang tidak begitu jelas dan menatap ke arah kami."
"Kami?"
"Aku dan sekelompok orang. Tetapi mereka tidak ada yang percaya kalau dia Muhammad. Hanya aku dan seorang laki-laki beraroma minuman keras yang berdiri di sebelahku yang percaya."
"Lelaki beraroma minuman keras?" tanya Ustaz setengah sanksi. Qatrun mengangguk yakin, "seperti apa buroq?"
"Seperti sampan panjang,"
"Lalu bagaimana kau tahu Muhammad naik buroq, bukan naik sampan?"
"Aku tahu, Ustaz! Itu buroq, bukan sampan."
*

Menjelang magrib, laki-laki yang dipanggil Cimeng itu berjalan ke mini market dekat rumah sewanya dan membeli roti tawar untuk makan. Ia masih tetap mengingat-ingat mimpinya tadi. Ada sekelompok orang, namun hanya dirinya dan seorang bocah yang percaya bahwa lelaki yang berdiri di atas buroq itu adalah Muhammad. Usai makan dan mandi, tangannya tergerak. Ia mengambil jarum tatto dan mulai menggambar di lengannya. Sebuah sampan berwarna hijau dan sebuah lingkar di atas sampan berwarna kuning. Warna cahaya.
*

Qatrun tahu, minum keras itu beraroma seperti apa walaupun ia tak pernah menyentuhnya barang sedikit. Ia mengenali warna raut wajah memerah jika seseorang mabuk. Ia juga tahu bahwa minuman keras itulah yang menyebabkan ibunya memar-memar. Malam-malam saat ayahnya masih agak sering pulang ke rumah dalam keadaan teler, ibu selalu menunggu hingga tertidur di kursi panjang yang tak patut disebut sebagai sofa di ruang depan rumahnya yang kecil. Saat pulang, tak jarang ayahnya membawa aroma sangit keringat bercampur minuman keras, penat yang sangat, serta sedikit uang hasil menyupir truk. Itu bukan pemandangan baru bagi Qatrun. Jika ibu bertanya habis dari mana, tangan ayahnya melayang ke pipi ibu, meninggalkan bekas memerah. Sedang ia akan terbangun, mengintip dari balik tirai pintu. Hingga suatu hari ayahnya tak pernah kembali walaupun ibu masih menunggu pada malam-malam setelah isya' didirikan dan mengambil selembar bantal tipis untuk menyangga lehernya di kursi panjang di ruang tamu mereka yang kecil.

Di kamarnya yang kecil, Qatrun menggambar. Sebuah sampan panjang berwarna hijau terang, dan sebuah lingkar di atas sampan yang dikelir warna kuning. Warna cahaya.
*

Walau sekarang Ramadhan, dan Cimeng mengaku beragama Islam, ia tetap tidak puasa, tentu saja. Ia sedang menerima order tindik di lidah seorang anak usia SMA.
"Gambar apaan nih?" tanya ABG itu. Lengan Cimeng yang terbuka memperlihatkan tatto-tattonya yang sudah tak terhitung. Anak itu tertarik pada sebuah tatto yang baru dibuatnya dua hari lalu.
"Ini...," ia urung menjelaskan, "nurut elo gambar apa?"
"Bola naik perahu ya?" Cimeng hanya tersenyum atas jawaban si ABG.

Kios tatto di rumah sewanya baru sepi menjelang siang. Cimeng duduk terdiam, ia tiba-tiba merasa lelah sekali. Dihitungnya sudah berapa lama dia pergi dari rumah dan tak kembali. Ia hanya mengirimkan sesekali surat untuk rumahnya saja. Tapi dia tak pernah benar-benar tahu apa yang ingin ditulisnya. Ibunya selalu bertanya, kapan akan pulang. Semakin banyak tatto dan tindik yang dia buat di tubuhnya, semakin urung pula ia pulang. Walau kadang-kadang ingin.
*

Malam berikut saat buka puasa Qatrun menunjukkan gambar itu pada ibunya.
"Gambar apa ini? Ibu ndak ngerti."
"Ini gambar mimpiku, Bu."
"Mimpi apa?"
"Ini Muhammad," katanya menunjuk gambar lingkar berwarna kuning, "ini buroq, kendaraan saat Muhammad pergi ke langit ketujuh bersama malaikat."
"Kapan kamu mimpi ini?"
"Kemarin, waktu tidur siang."

Ibunya terharu, mengelus pelan rambut anaknya. Seperti biasa, Qatrun selalu pergi ke masjid untuk tarawih. Selesai tarawih kali itu pula ia tak langsung pulang. Ditunjukkannya gambarnya pada Ustaz dan beberapa teman lain. Ia jelaskan, gambar itu adalah Muhammad sedang naik buroq.
"Qatrun, hanya orang-orang terpilih yang bisa ditemui Muhammad di mimpinya," ujar Ustaz.
"Apakah itu berarti aku orang terpilih?"
"Kau yakin tak berbohong atas cerita mimpimu itu? Berbohong itu dosa." Teman-teman yang tadinya antusias mendengar cerita Qatrun bermimpi bertemu Muhammad, jadi terdiam. Memandang bergantian antara Qatrun dan Ustaz. Qatrun kecewa akan perkataan Ustaznya. Ia mengambil gambar itu.

Pergi dari surau dan tak pernah datang lagi untuk salat subuh, atau magrib, atau isya� atau tarawih. Gambar itu diletakkan begitu saja di atas meja. Tak pernah ia menyentuhnya lagi, hingga gambar itu hilang entah ke mana. Qatrun sekarang lebih suka membuat bermacam-macam gambar di bukunya. Tak hanya buku gambar, tapi buku tulis sekolah juga jadi penuh gambar. Ia tak hanya menggambar gunung, sawah dan rumah kecil. Kini gambar-gambarnya jadi berragam dan makin rumit. Qatrun pun jadi pendiam, hingga suatu hari dia bercita-cita akan meninggalkan rumah jika sekolah selesai.
*

Kios tatto hari itu ditutup, rumah sewa juga tutup. Anak-anak punk dan ABG yang sering mangkal di situ heran karena rumah itu tiba-tiba tutup dan digembok. Cimeng pergi mematikan HP-nya setelah sebelumnya dia mengirimkan sebuah SMS ke seorang temannya. Gue mudik, bunyi SMS itu.

Ia tak percaya, kampung kecil itu dijejakkinya lagi. Ia tak yakin ibu dan teman-temannya masih mengenalinya setelah pergi dari kampung itu tujuh tahun yang lalu, mengingat begitu banyak tatto dan tindik di tubuhnya sekarang. Ia khawatir ibunya tak mengenalinya. Saat ia sampai dan mengetok-ngetok pintu, rumah kecil itu tak dikunci. Cimeng masuk tanpa permisi. Seorang perempuan paruh baya berjilbab tertidur di kursi panjang yang tak bisa disebut sofa dengan sebuah bantal tipis menyangga lehernya. Selembar kertas bergambar sebuah sampan berwarna hijau dan lingkaran kuning keemasan berada di dekapannya. Bertahun-tahun, dan anaknya tak pernah tahu bahwa ia masih menyimpan gambar itu. Ibu, Qatrun pulang.

Kamu ya kamu ....


Nggak mungkin! Kamu itu soulmateku, bukan yang lain!
Gila, coba kamu bayangin... sudah berapa banyak orang yang kutolak cintanya demi mendapatkan orang yang sempurna. Masih bertanya siapa orangnya??? Kamu Mas, KAMU! Aku menemukan semuanya di kamu. Satu lagi yang harus kamu inget, bukan aku yang ngejar-ngejar kamu. KAMU yang berkeras mendapatkan cintaku, KAMU! Dan sekarang, setelah mendapatkannya, kamu meninggalkanku begitu saja?

Ah, rasa kecewa yang mendalam ini masih begitu terasa di dadaku. Setiap kali mengingatnya dadaku terasa sangat sakit. Rasa menusuk itu tetap saja ada, walaupun memang tidak sesakit dahulu. Hubungan yang kuharap bisa berlangsung sampai akhir kami menutup mata ternyata berakhir semudah menutup pintu saja.

Ketika itu aku masih muda, cinta muda. Bukan, bukan cinta monyet... aku sungguh-sungguh mencintainya. Aku memang tidak cantik, tapi rasanya cukup menarik. Sudah banyak laki-laki dan pria yang berusaha mendapatkan cintaku. Idealismeku yang sangat tinggi ketika itu membuatku menjadi perempuan pemilih.

Begitu banyak kriteria yang kutetapkan untuk diriku sendiri. Hmmm, tidak banyak sebenarnya, dia hanya harus seiman denganku, sedap dipandang, Jawa (ups..), usianya paling tidak empat tahun lebih tua daripada aku, dan dia harus lebih pintar dibandingkan aku. Satu kriteria saja yang tidak terpenuhi berarti he’s not the one.

Pencarian panjangku berakhir ketika aku menemukannya, sosok pria tampan dari suku Jawa, seiman, usianya 7 tujuh tahun di atasku, dan lebih pintar dibandingkan aku. Sangat sempurna... he’s the one.

Ternyata kesempurnaan kriteria yang ada dalam dirinya tidak sejalan dengan kecocokan kami. Aku yang masih muda tidak mau menghabiskan waktu hanya untuknya. Mas yang sudah dewasa ingin waktu luangnya yang hanya sedikit dihabiskannya bersamaku. Aku yang egois tidak ingin kehilangan waktu bersama teman-temanku hanya demi seorang pria.

Perbedaan prinsip, keegoisan, dan keengganan kami untuk memecahkan masalah sepertinya saling melengkapi. Komunikasi yang semula baik menjadi buruk. Keinginanku untuk selalu mendengar suaranya berubah menjadi keengganan. Kehadirannya yang selalu kunanti rasanya ingin selalu kulewati. Pribadinya yang kupuja-puja kini kupertanyakan. Bukan, rasanya bukan hanya aku yang merasakannya. Aku yakin, dia juga merasakan hal yang sama. Hanya saja, tidak ada satupun diantara kami yang cukup ksatria untuk mengungkapkannya.

Pagi itu, hari Minggu, tepat sebelum aku beranjak ke gereja, sosok sempurna itu datang ke rumahku. Kuakui, rasa gembira sempat menghampiriku. Sejenak aku merasa harapan itu masih ada. Semua retakan yang mengurangi kesempurnaannya masih bisa diperbaiki sebelum akhirnya pecah berantakan. Namun ternyata, kegembiraan hanya datang sejenak, harapan tinggallah harapan, kehancuran yang tidak pernah berani kubayangkan ternyata benar-benar datang.

Hari itu, jam itu, menit itu, detik itu, kurasakan sakit yang teramat sangat. Rasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Ah, ternyata inilah yang dinamakan sakit karena cinta. Sakit yang sejak dahulu banyak diceritakan kepadaku, sakit yang pada masa itu bahkan tidak dapat kubayangkan. Tuhan, bila aku dapat meminta, jangan sampai sakit ini Kau hadirkan untukku lagi.

***

Tahun-tahun berlalu, meninggalkan begitu banyak kenangan dan pembelajaran untukku. Rasa (yang dahulu) sakit itu memang terkadang masih kurasakan. Namun rasa itu sudah berbeda. Rasa sakit itu sudah berubah menjadi rasa syukur dan terima kasih.

Sekarang aku sadar, rasa yang pernah mati-matian kuanggap cinta ternyata bukan cinta. Sosok yang semula kuagung-agungkan karena kesempurnaannya ternyata hanya sempurna berdasarkan kriteria kesempurnaan yang kubuat sendiri. Rasa sakit yang pernah kurasakan semula sangat kubenci namun kini sangat kusyukuri.

Kini aku sadar, tidak ada sosok yang benar-benar sempurna. Ketidak sempurnaan ternyata membawa berkah tersendiri. Ketidak sempurnaan mengajakku terus berusaha memperkaya diri dan orang lain. Ketidak sempurnaan membuat hidupku tidak monoton. Ketidak sepurnaan pada akhirnya membuat hidupku terasa lebih sempurna.

Saat ini, pria yang jauh dari sempurnalah yang mendampingiku. Pria yang sudah, masih, dan kuharap dapat terus memperkaya hidupku. Pria yang membuatku dapat dan masih terus berusaha untuk mencintai dengan tulus.

Terima kasih Tuhan atas kesempatan yang Kau berikan padaku untuk mengecap rasa sakit itu. Terima kasih atas anugerah menikmati hasil pembelajaran yang Kau berikan padaku. Aku tidak sempurna, dan aku sadar memang tidak ada satupun orang yang sempurna. Biarlah hal itu menjadi milikMu saja. Satu yang kumohon, bukalah mata hatiku untuk terus menikmati ketidak sempurnaan yang Kau berikan pada kami.





Terdapat dua orang sahabat baik bernama John dan Andy.
Mereka dari kecil telah bermain bersama, sekolah bersama,
melakukan kenakalan bersama, pada dasarnya hampir segala sesuatu
mereka lakukan secara bersama.

Pada saat mereka memasuki umur remaja pecahlah perang dunia ke-2.
Pemuda-pemudi yang tangguh diwajibkan untuk ikut wajib militer
membela negaranya, tidak terkecuali John dan Andy.
Mereka mendapat pangkat letnan dua dan ditugaskan
di garis depan medan perang.

Pada suatu pagi berkabut hendak dilakukan serangan mendadak
menuju tempat musuh dipimpin oleh kapten mereka.

Pada saat mereka mengendap-endap menuju tempat musuh
mentari pagi bersinar dengan cerahnya dan menghapus kabut
yang menyelubungi mereka.

Kontan musuh yang melihat mereka
segera menembak dengan membabi- buta.
Maka lari tunggang-langganglah mereka semua termasuk John dan Andy.

Sesampainya mereka semua dimarkas ternyata John tidak ada,
maka dengan segera Andy meminta ijin pada kaptennya untuk kembali
ke wilayah musuh mencari John.

Namun sang kapten menolak sambil berkata,
"Untuk apa kau kembali lagi kesana, mungkin dia sudah mati
dan kaupun bakal tertembak musuh "
Namun Andy tidak menghiraukan perintah tersebut
dan tetap kembali untuk mencari John.

Selang setengah jam kemudian Andy kembali
dengan berlumuran darah sendirian.

Sang kaptenpun marah besar,
"Apa kubilang, John tidak kembali dan kaupun tertembak.
Sungguh sia-sia" kata sang kapten.
"Tidak sia-sia, karena aku mendengar kata-kata terakhirnya,"
kata Andy.
"Omong kosong," kata sang kapten sambil berlalu.

Namun karena rasa ingin tahu sang kapten maka dia kembali lagi
ke tempat Andy dan bertanya,"Memangnya apa yang dia katakan,
sampai kau rela mempertaruhkan nyawamu?".

"Saya tahu kau pasti akan kembali mencariku," itulah kata-kata terakhirnya
dan dia mengatakannya sambil tersenyum dengan puas.

Memang tidak mudah untuk mencari sahabat sejati,
karena kita tidak akan pernah bisa menebak isi hati
dan pikiran orang lain.

Bahkan seorang ibu pun tidak bisa mengetahui apa yang ada
dalam pikiran anaknya walaupun dia yang melahirkan tubuh anaknya.

Sebaliknya teman begitu mudah untuk dicari
namun hal itu tidaklah kekal.

Mereka akan bersama Anda saat ada kepentingan
dan di saat sedang ada kegembiraan,
namun saat giliran duka sedang menaungi Anda
mereka satu demisatu akan meninggalkan Anda.
Disinilah kita bisa mengetahui siapa sahabat sejati Anda.

Namun sahabat janganlah Anda uji,
karena dia telah memberi tempat khusus di hatinya untuk Anda,
saat diuji maka Anda akan kehilangan tempat tersebut.

Biarlah seleksi alam yang menentukan siapa sahabat sejati Anda,
saat Anda sedang jatuh dia akan tetap bersama Anda,
saat dia sedang kesulitan Anda akan menolongnya tanpa pamrih.

Bila Anda telah menemukannya Anda harus menjaga
berlian tersebut baik-baik karena Anda mungkin tidak akan
menemukan berlian yang lain.

Saya sering mendengar dan membaca cerita
bahwa persahabatan putus karena masalah uang dan cinta,
dan saya sering tertawa setelah mendengar / melihatnya
karena menurut saya itu adalah omong kosong.

Seorang sahabat sejati tidak akan menukar hati sahabatnya
dengan uang bahkan untuk wanita/pria sekalipun,
bahkan bila mereka telah berkeluarga tetap akan saling kontak.

Tidak ada teori tetap yang bisa merumuskan seorang sahabat sejati
untuk Anda namun bila saatnya tiba Anda akan mengetahui dengan sendirinya.

Seperti sebuah pepatah cina yang menyebutkan
'bisa bertemu merupakan jodoh'.
Tentunya bukan dalam konteks cowo-cewe,
bisa saja antar cowo maupun antar cewe
dan belum tentu harus kawin dan saling menyukai.

Bisa saja seorang sahabat sejati justru adalah rival Anda,
dia akan banyak bergesekan dengan Anda tapi hal tersebut
justru membuat Anda makin sering bersua dengannya,
berkompetisi sehingga saling memajukan,
dan kembali ke ciri klasik bahwa dialah yang akan menolong Anda
saat sedang jatuh walaupun terkadang rival Anda ini
terlalu angkuh untuk mengakuinya.

Semoga Anda mampu menemukan sahabat sejatimu.
Ingatlah selalu bahwa sahabat sejati layak untuk diperjuangkan...